Pagi-pagi buta, sebelum matahari nongol, suasana di depan warung sederhana di kawasan Gubeng, Surabaya, udah ramai. Bukan tanpa sebab, warung soto legendaris yang udah ada sejak 1985 ini lagi viral banget di linimasa. Banyak netizen yang rela bangun pagi dan nekat antre panjang demi merasakan semangkuk soto hangat yang katanya bikin kangen.

Kejadian ini bikin orang penasaran. Kok bisa sih warung soto bikin orang rela antre berjam-jam? Apa yang bikin beda? Yuk kita bedah lebih dalam.

Fenomena Antrean yang Nggak Masuk Akal

Di balik viralnya, warung ini sebenarnya nggak punya gimmick atau marketing khusus. Semua murni karena rasa yang saringat dan konsisten. Pemiliknya, Mbah Darmi (72), masih setia meracik kuah soto dengan resep turun-temurun. Pengunjung yang pernah datang menceritakan bahwa soto di sini punya ciri khas kuahnya yang gurih dan segar, plus dagingnya empuk banget.

Menurut salah satu pengunjung, Budi (34), ia sampai bangun jam 4 pagi demi bisa dapat tempat duduk. "Pernah datang jam 6, ternyata udah antre panjang. Sekarang saya lebih milih subuh-subuh biar nggak kehabisan," ujarnya dengan senyum. Warung ini buka dari jam 5 pagi sampai jam 10, tapi kalau kuahnya habis, ya tutup lebih awal. Jadi wajar kalau orang berlomba-lomba.

Para netizen yang penasaran pun mulai berdatangan dari berbagai kota. Beberapa bahkan mengabadikan momen antrean ini dalam video dan diunggah ke media sosial. Hasilnya, makin ramai dan makin panjang lah antreannya. Ini sih efek domba beneran.

Reaksi Warganet: Antara Penasaran dan Waswas

Di media sosial, reaksi netizen campur aduk. Ada yang memuji kegigihan pengunjung, ada juga yang menganggapnya lebay. Salah satu twit yang beredar berbunyi, "Demi semangkuk soto, antre 3 jam? Nggak ada kerjaan lain ya?" Tapi twit itu langsung dibalas banyak orang yang membela, "Kamu belum pernah cobain soto Mbah Darmi. Sekali nyobain, pasti ngerti."

Banyak juga netizen yang curhat pengalaman pribadi saat ke sana. Ada yang bilang, "Antrenya panjang, tapi pelayanannya cepat. Nggak nyangka gitu." Ada juga yang sengaja datang dari Jogja hanya buat ngerasain soto ini. Bahkan beberapa pekerja kantoran memilih izin telat kerja daripada balik tanpa mencicipi. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya magnet kuliner legendaris di Indonesia.

Ke depannya, pihak keluarga pemilik warung sudah berencana menambah kursi dan memperluas tempat, tapi tetap mempertahankan rasa otentiknya. Persoalan antrean mungkin akan tetap ada, tapi justru itu yang bikin warung ini makin tenar. Kalau kamu, berani coba antre? Jangan lupa bawa buku atau mainan buat ngilangin bosen ya!